About

Sejarah IPNU Visi dan Misi Struktur Organisasi (dengan foto dan jabatan) AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) Profil singkat tokoh-tokoh pelajar NU

Menelusuri Jejak Sejarah IPNU

Setiap organisasi besar lahir dari perjalanan panjang dan dinamika sosial yang kompleks, tak terkecuali Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Sebagai wadah bagi pelajar dan santri NU, IPNU memiliki sejarah yang kaya akan semangat kebersamaan dan perjuangan dalam bidang pendidikan serta dakwah Islam.

Namun, bagaimana awal mula organisasi ini terbentuk? Apa latar belakang yang mendorong lahirnya IPNU sebagai badan otonom NU? Untuk memahami lebih dalam, mari kita telusuri sejarah berdirinya IPNU dan perjalanan panjangnya dalam membina generasi muda Nahdlatul Ulama.

DELEGASI MUKTAMAR I PC. IPNU KAB. LAMONGAN TH. 1955. (NU Lamongan)

Cikal Bakal Organisasi Pelajar NU

Setiap tanggal 24 Februari, keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) memperingati hari lahir Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Melansir laman resminya, organisasi ini didirikan pada 24 Februari 1954 di Semarang, menjadikannya badan otonom NU yang berfungsi sebagai wadah bagi pelajar dan santri dengan usia maksimal 30 tahun. Kelahiran IPNU tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang diawali dengan tumbuhnya berbagai organisasi pelajar di lingkungan NU.

Sebelum IPNU berdiri, berbagai organisasi pelajar NU telah lahir secara lokal. Di Surabaya, putra-putra warga NU mendirikan Tsamrotul Mustafidin pada tahun 1936. Kemudian, pada tahun 1939, muncul Persatoean Santri NO (Persano), yang juga berperan dalam menghimpun pelajar NU.

Sementara itu, di Malang, berdiri Persatoean Anak Moerid NO (PAMNO) pada tahun 1941, diikuti oleh Ikatan Moerid NO pada tahun 1945. Madura pun tak ketinggalan dengan mendirikan Syubbanui Muslimin di tahun yang sama. Perkumpulan Ijtimaul Tolabah NO (ITNO) di Sumbawa, yang didirikan pada tahun 1946, bahkan memiliki tim sepak bola bernama Ikatan Sepak Bola Peladjar NO (ISPNO).

Perkumpulan-perkumpulan ini lahir di tengah revolusi kemerdekaan Indonesia sebagai bentuk kontribusi kalangan pesantren dalam perjuangan bangsa. Namun, setelah revolusi fisik mereda, aktivitas organisasi-organisasi tersebut mulai menurun. Sebaliknya, gagasan untuk menyatukan berbagai organisasi ini dalam satu wadah nasional semakin berkembang.

Pada awal 1950-an, beberapa organisasi embrio IPNU mulai bermunculan. Di Semarang, berdiri Ikatan Siswa Muballighin NO (Iksimno) pada tahun 1952. Kemudian, Persatuan Peladjar NO (Perpeno) lahir di Kediri pada tahun 1953, disusul oleh Ikatan Peladjar Islam NO (IPINO) di Bangil pada tahun yang sama. Di Medan, Ikatan Peladjar NO (IPNO) juga berdiri pada tahun 1954.

Kesadaran akan pentingnya wadah tunggal bagi pelajar NU akhirnya dibahas dalam Konferensi Besar LP Ma’arif NU pada Februari 1954 di Semarang. Para penggagas ide ini, seperti M. Softan Kholil, Mustahal, Ahmad Masyhud, dan Abdulghani Farida M. Uda, mengusulkan pembentukan organisasi nasional bagi pelajar NU.

Akhirnya, pada 20 Jumadil Akhir 1373 H / 24 Februari 1954 M, Konferensi Besar secara resmi menyetujui berdirinya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dengan Mohammad Tolchah Mansoer sebagai ketua pertama, meskipun ia saat itu tidak hadir dalam konferensi.

IPNU awalnya berstatus sebagai organisasi di bawah LP Ma’arif NU dan hanya beranggotakan putra dari pesantren, madrasah, sekolah umum, serta perguruan tinggi. Organisasi ini berasaskan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dan bertujuan untuk menegakkan serta menyiarkan agama Islam, meninggikan kualitas pendidikan Islam, serta menghimpun seluruh pelajar Islam yang berpaham Aswaja.

JCI Accreditation
NABH Certification
ISO 9001
CAP Accreditation
Medical Board
Healthcare Association

Bagi IPNU, Nahdlatul Ulama tidak hanya dipahami sebagai organisasi keagamaan atau sosial kemasyarakatan, tetapi juga sebagai pusat pengorganisasian kegiatan dan ruang pengabdian bagi kader yang memiliki semangat khidmah yang sama. IPNU menjadi kawah candradimuka bagi generasi muda untuk berproses di NU serta menemukan arah hidup di tengah dinamika dan ketidakpastian zaman milenial.

Sebagai organisasi kaderisasi berbasis usia, IPNU memiliki peran penting dalam menyiapkan kader-kader NU dari berbagai latar belakang, seperti santri, pelajar, mahasiswa, hingga pemuda desa dan kota. Keberagaman ini menjadikan IPNU mampu mengintegrasikan pemahaman turats (kitab kuning), ilmu agama, dan ilmu umum secara sinergis, sekaligus membangun kesadaran ber-NU yang mencakup aqidah, amaliyah, fikrah, dan harakah.

Gerakan IPNU berlandaskan pada delapan prinsip utama, yaitu ukhuwah (Nahdliyah, Islamiyah, Wathaniyah, dan Basyariyah), amanah, ibadah atau dedikasi, kesederhanaan, nonkolaborasi, komitmen pada korps, kritik dan otokritik, serta learning organization. Prinsip-prinsip ini menjadi nilai dasar bagi setiap anggota dan kader dalam menjalankan organisasi.

Tujuan kaderisasi IPNU adalah membentuk kader yang terdidik, terorganisir, dan terpimpin. Melalui penguatan intelektualitas, konsolidasi organisasi, serta pelaksanaan keputusan Kongres IPNU ke-XX di Jakarta, diharapkan kader-kader IPNU tidak hanya melanjutkan estafet kepemimpinan di NU, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan negara.

HASIL KONGRES XX DI JAKARTA 2022